Cuma Ingin Dilema

Ini kali pertamanya saya mengesah lewat media blog. Jangan pula berharap, saya menceritakan sebuah profil. Jadi, izinkanlah saya mulai dengan cara sederhana.

Malam telah menjadi dini, saya masih meratap di langit-langit kamar sambil menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berdebat dengan Super Ego.

Saking seringnya begadang dengan lampu kamar menyala, teguran dari ibu saya untuk menyegerakan waktu tidur terjadi seirama — ia selalu terbangun di waktu tahajjudnyaa dan menengok ke kamar saya.

Seperti malam-malam sebelumnya — masih sambil merenung, saya selalu mengevaluasi adakah hikmah atau hidayah dalam seharian penuh yang terlewati?

Yup. hingga puncak pemikiran saya berhilir tentang perdebatan apakah saya ingin menulis atau membaca.

Empat jam waktu yang saya butuhkan untuk memutuskan satu pilihan. Kedua pilihan kedudukannya sama-sama kuat dan lemah. Saya tidak memihak dan berat sebelah kepada siapa calon pilihan. Tapi namanya perasaan dan mekanis, sering terbentur..

Pilihan pertama, menulis. Tidaklah kalian tahu, bahwa di dalam ruang ego saya terjadi sebuah letupan-letupan kuat?. Ia seperti ingin keluar dari kepala saya. Bukan satu-persatu, tapi semuanya, seperti orang merasa mual dan ingin muntah. Sampai titik itu, super ego saya mendebat dan membikin njelimet. Lalu ia berkata, “Wis lha, mengko yo mabuk bablas ngebokep, mending maca saja,”

Baiklah, daripada berujung dengan film xxx. Kuputuskan untuk tidak memilih menulis. Hingga tak ada satupun rangkaian diksi indah tertulis.

Pilihan kedua membaca. Sedikitnya ada 8 buku baru nan menarik yang memang saya sangat ingin sekali membacanya — belum termasuk buku lama yah my friend..

Lha kok bisa numpuk gitu? Yha iya wong ndak ada kesempatan buat baca. Cuma dini hari waktu tepat untuk membaca. Ini karena tuntutan bertahan hidup. Kalau saya baca buku di siang atau malam hari di waktu kerja?

Welah! ansos sekali dikiranya saya. Hmm…sekali lagi tuntutan pekerjaan yang harus banyak berinteraksi dengan manusia.

Baiklah alasan bersosialisasi. Lalu, memangnya siang malam juga bekerja? Lha, memang saya manusia? Bukan. Anjing!.

Sudahlah. Pilihan memang sulit. Tergantung perspektif kita menilai.

Perdebatan juga tak akan habis kalau hanya bercuap sambil membatin.

Dan pada akhirnya, saya putuskan untuk memilih mbokep saja pukul 02.00 WIB.

Sssst. Kalian boleh tahu, insting hewan saya lebih kuat ketimbang sisi manusiawi.

Awuuuuu…..

(Kok jadi serigala, bukan Anjing)

Gandul, 21 April 2018

Advertisements

4 thoughts on “Cuma Ingin Dilema”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s